Rabu, 22 Februari 2012

KAJIAN TEKNIS BUDIDAYA DAN MANAJEMEN PRODUKSI PENGOLAHAN MINYAK NILAM DI BEBERAPA SENTRA NILAM JAWA BARAT

KAJIAN TEKNIS BUDIDAYA DAN MANAJEMEN PRODUKSI PENGOLAHAN MINYAK NILAM DI BEBERAPA SENTRA NILAM JAWA BARAT

(The Study of Pogostemon cablin Cultivation and The Patchouli Oil Production Management in The Centre of Production Regions of West Java Province)

Oleh : Roni Kastaman dan Ade M.Kramadibrata ; Staf akademik Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran Bandung. Kampus UNPAD Jatinangor Km 21 Sumedang. E-mail : tikakiki@yahoo.com

(Makalah disampaikan pada acara Seminar Nasional Tahunan PERTETA, dengan tema Pengembangan Inkubator Agrobisnis Berbasis Teknologi Tepat Guna, 10 Desember 2003. Di Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna LIPI – Subang)

Abstract

Untill now there is no appropriate information to describe the sufficient of agroindustrial management of patchouli oil in West Java, especially on cultivation aspect and production management in the production centre. In order to describe the existing condition about this situation, the research has been conducted in Tasikmalaya, Garut, Majalengka and Bandung Region on June untill October 2003. The research uses descriptive method and the result shown that for all of the centre need further improvement especially on agronomical aspect, topography, soil condition, and plant suitability to obtain the best quality og patchouli oil. It needs better cultivar of plant to meet the best quality of the oil. There is a few weaknesses on the destilator design so that it should be modified in order to fulfill the uniformity of heat from boiler to the tank of destilator. The waste handling management in every centre of the region is still poor and tend to be improved in the future. To comfirm with the mission of small and medium entreprise needs, the group of the farmer should be well trained primary on agronomical aspect, production technology of the patchouli oil, quality management and good waste management. Keyword : pogostemon cablin, patchouli oil, agronomical aspect, production technology.

I. LATAR BELAKANG

Hampir sekitar 90 % pasokan minyak nilam dunia (+ 1.500 ton) adalah berasal dari Indonesia terutama dari daerah Propinsi Aceh. Namun dengan memburuknya situasi keamanan di Propinsi Aceh pada akhir-akhir ini, pasokan minyak nilam Indonesia juga ikut berkurang. Sehingga situasi ini membuka peluang bagi daerah-daerah lain di Indonesia untuk mengembangkan usaha komoditas ini. Minyak nilam mempunyai prospek usaha yang cerah mengingat komoditas ini di Amerika dan Eropah bisa mencapai harga USD 50/Kg yang terutama dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pembuatan minyak wangi (sebagai pengikat bau atau fixative parfum) dan kosmetik. Namun minyak nilam juga bisa dimanfaatkan untuk bahan anti-septik, anti-jamur, anti-jerawat, obat eksim dan kulit pecah-pecah, serta berbagai jenis kegunaan lainnya sesuai kebiasaan masyarakat di negara pemakai.

Di Jawa Barat, tanaman nilam telah dikembangkan di beberapa daerah seperti Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Bandung, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, baik oleh swasta maupun melalui dukungan Dinas terkait (misalnya : Dinas Koperasi & UKM dan Dinas Perindag) dengan pertumbuhan yang cukup memuaskan. Oleh karenanya budidaya tanaman nilam ini perlu diupayakan dengan dukungan teknologi pengolahan (destilasi) yang lebih efisien dan berkualitas agar mempunyai daya saing dan lebih efisien dan berkualitas agar mempunyai daya saing dan lebih ekonomis dibandingkan dengan sistem konvensional yang ada.

Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan hingga saat ini belum ada kajian yang terkait dengan aspek teknis budidaya dan manajemen produksi terhadap sentra nilam yang ada di Jawa Barat. Sehingga belum dapat diketahui apakah dari sisi budidaya maupun kinerja manajemen produksi agroindustri nilam tersebut sudah memenuhi syarat ataukah belum. Dengan demikian penelitian yang bertujuan mendapatkan gambaran kondisi tersebut perlu kiranya dilakukan.

II. POKOK PERMASALAHAN

Ada beberapa hal yang ingin diketahui dalam observasi lapangan berkaitan dengan budidaya dan teknologi penyulingan minyak nilam di Jawa Barat, antara lain yaitu :

  1. Mengevaluasi hasil budidaya tanaman nilam dan kualitas minyak nilam yang dihasilkan oleh unit destilasi yang dibuat agar dapat diketahui apakah kondisi saat ini telah sesuai dengan standar mutu minyak nilam yang telah ditetapkan.
  2. Mengevaluasi kinerja perangkat unit destilasi (penyulingan) minyak nilam yang telah dibuat, sehingga secara teknis penyulingan yang dilakukan mampu memberikan mutu minyak yang terbaik.
  3. Memberikan rekomendasi guna perbaikan teknis budidaya tanaman dan sistem penyulingan minyak nilam yang baik dan optimal

III. METODOLOGI

Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga Oktober 2003 di sentra agroindustri nilam di Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif. Kegiatan yang telah dilakukan di beberapa daerah antara lain:

  1. Survey lapangan, yaitu mencakup pengamatan visual (observasi) ke daerah penanaman (budidaya) tanaman nilam di Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Majalengka dan Kabupaten Bandung, dengan maksud untuk mendapatkan gambaran umum lokasi dan evaluasi kesesuaian lahan budidaya tanaman nilam.
  2. Pengamatan visual pada areal budidaya dan unit instalasi penyulingan minyak nilam di kecamatan Pager Ageung Kabupaten Tasikmalaya, kemudian di kecamatan Cilawu (perbatasan Kabupaten Garut – Tasikmalaya), kecamatan Banjaran (kabupaten Bandung) dan kecamatan Argapura (Kabupaten Majalengka), dengan maksud untuk mendapatkan gambaran teknis dan kinerja unit penyulingan minyak nilam yang akan digunakan oleh masyarakat petani di lokasi pengamatan.
  3. Pengambilan sample (contoh) daun nilam dan minyak nilam yang didestilasi dengan peralatan yang ada untuk kemudian dianalisis di laboratorium kimia, dalam hal ini Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran.
  4. Evaluasi teknis budidaya dan mutu minyak nilam yang dihasilkan serta analisis prospektif pemanfaatan produk samping dari limbah daun nilam hasil destilasi.

IV. HASIL PENELITIAN

4.1. Gambaran Observasi Lapangan di Sentra Nilam Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya

a. Aspek Budidaya

Berdasarkan pengamatan lapangan diperoleh gambaran sebagai berikut :

  1. Lokasi penanaman tersebar di banyak lokasi dengan keragaman karakteristik lahan, tanah dan tanaman yang signifikan secara visual. Hal ini terlihat dari tidak seragamnya produktivitas tanaman yang dihasilkan. Beberapa gambaran visual lokasi pengamatan teknis budidaya tanaman nilam tersebut adalah seperti yang disajikan pada gambar berikut :
    0g1

  2. Cara pemanenan belum mengikuti kaidah atau prasyarat bagi tercapainya mutu minyak nilam yang baik. Hal ini terlihat dari gambar di atas, dimana cara pemanenan dan pengeringan tidak terkontrol dengan baik.
  3. Kesesuaian lahan nampaknya belum diuji secara laboratorium dan hal ini terlihat dari belum seragamnya hasil mutu minyak setelah dianalisis di laboratorium. Oleh karena itu pengujian tanah dan penentuan kesesuaian lahan baik dari sisi topografi dan zona klimatisasinya perlu dilakukan untuk masa yang akan datang.

b. Pengamatan Visual dan Kinerja Unit Destilasi

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, baik di bengkel yang mengerjakan rancang bangun unit destilasi minyak nilam, maupun di lapangan tempat uji coba mesin dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Sistem pemanasan destilasi tidak seragam (tidak merata) sehingga hal ini berdampak pada mutu minyak yang dihasilkan tidak seragam (Gambar 7.) disamping itu dengan sistem destilasi seperti yang dirancang sekarang ini akan mengkonsumsi energi yang berlebih dengan sistem perpindahan panas yang tidak merata karena panas didistribusikan secara serial (Gambar 8.). Untuk perbaikan di masa yang akan datang perlu dimodifikasi sistem penyebaran panas secara konsentrik radial, sehingga pemanasan akan lebih merata.
    0g7-8

  2. Cara penampungan minyak seharusnya diperbaiki dengan tidak menggunakan bahan penampung dan penyimpanan dari bahan plastik. Bahan yang baik setidaknya adalah bahan kaca berwarna gelap agar tidak mengubah komposisi kimia minyak nilam yang dihasilkan.
  3. Cara pembuangan uap harus diupayakan agar beberapa bagian uap yang masih mengandung minyak tidak terbuang percuma ke luar sistem destilasi, dengan demikian harus dimodifikasi sistem pengeluaran uap yang berbentuk sistem “looping” (arus balik).
  4. Bahan pipa-pipa penyalur dan konstruksi lainnya harus seragam dan terbuat dari bahan “stainless steel” agar tidak berpengaruh terhadap kualitas minyak.
  5. Penyimpanan daun kering dan cara pengeringan daun dari sejak dipotong dari kebun harus diupayakan seoptimal mungkin untuk menghindari terjadi fermentasi dan susut rendemen minyak dalam daun, mengingat sistem destilasi yang digunakan pada disain yang ada saat ini adalah sistem penyulingan cara kering (menggunakan daun kering).
  6. Sistem pendinginan untuk kondensasi uap – minyak perlu disempurnakan sehingga aliran air yang masuk ke pendingin dapat berfungsi secara maksimal dan merata dengan demikian hasil dan mutu minyak yang diperoleh dapat lebih baik.

c. Hasil Analisis Laboratorium untuk Hasil Minyak Nilam

Dari hasil pengujian sample daun dan minyak nilam di laboratorium kimia Universitas Padjadjaran, dapat disampaikan beberapa kesimpulan teknis, baik yang menyangkut aspek tanaman yang telah dibudidayakan, maupun minyak hasil destilasi dengan menggunakan mesin yang telah dipasang di daerah sentra produksi Pager Ageung, Kabupaten Tasikmalaya (hasil uji pada lampiran).

Tanaman Nilam yang digunakan sebagai sumber minyak nilam dalam hal ini tidak dapat diketahui dengan pasti varietasnya. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

  1. Pada saat pengambilan sample diketahui bahwa terdapat 5 jenis tanaman dengan varietas yang berbeda (tanpa nama species yang pasti) yang ditanam pada satu lokasi penanaman.
  2. Taman tersebut memiliki nama daerah yang sama, yaitu : Nilam Aceh, tapi asal yang berbeda, yaitu ; Cisaroni, Bengkulu 1, Sidikalang, Bengkulu 2 dan Lokal.
  3. Akibat dari faktor-faktor diatas, daun yang sekarang dihasilkan tidak tertutup kemungkinan telah mengalami perubahan dalam arti terjadi persilangan yang menghasilkan varietas baru yang tidak diketahui dengan pasti kualitasnya.
  4. Dari hal-hal tersebut diatas dapat dilihat satu bukti yang nyata yaitu rendahnya kadar Patchouli alcohol (20,28 %) yang mana hal ini menunjukkan bahwa proses biokimia pembentukan senyawa tersebut tidak berlangsung dengan baik. Hal ini juga mengindikasikan bahwa telah terjadi ketidakcocokan sistem budidaya antara faktor genetik (spesies tanaman) dan faktor pendukung lingkungan ( unsur hara, iklim, dll).

Disamping hal tersebut di atas juga belum dapat diketahui bagaimana sebenarnya cara budidaya tanaman nilam tersebut dilakukan di lapangan, apakah mengikuti kaidah budidaya, pola tanam, syarat tumbuh dan kesesuaian lahannya (baik dari sisi iklim, tanah, topografi, dan faktor lainnya). Untuk itu perlu kiranya dilakukan kegiatan pengamatan lebih lanjut dan penyuluhan intensif kepada petani agar aspek budidaya tanaman dan pemilihan varietas nilam dapat dilakukan dengan baik, agar dihasilkan minyak dengan kadar yang baik pula.

Minyak Nilam yang dihasilkan, baik yang diperoleh dari uji daun maupun dari uji sample minyak yang diperoleh dari destilator yang ada di pager Ageung, hampir seluruhnya tidak memenuhi dengan lengkap standar spesifikasi perdagangan (SNI: 06-2385-1991).

Hal ini diperkirakan sebagai akibat dari :

  1. Daun tanaman tidak memenuhi standar kualitas, yang kemungkinan diakibatkan oleh :
    • Varietas tanaman tidak unggul atau telah terjadi penyerbukan silang diantara varietas tanaman yang belum diketahui spesifikasi asalnya dengan jelas.
    • Daya dukung ekologi/lahan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman
    • Proses pemeliharaan budidaya
    • Kesalahanan proses produksi pasca panen, yang salah satunya faktornya adalah dekomposisis kandungan minyak atsiri pada proses pengeringan.
  2. Mekanisme proses destilasi yang terjadi dalam mesin / alat destilasi belum bekerja secara sempurna, akibat laju pemanasan tidak seragam dan proses penguapan yang kurang sempurna. Proses Penyulingan yang kurang sempurna ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
    • Kualitas alat (bahan logam) dari sistem penyulingan yang digunakan kurang baik, sehingga masih terdapat kandungan logam-logam yang dapat terlarut dan bereaksi dengan minyak nilam selama proses penyulingan.
    • Kebersihan seluruh sistem peralatan yang digunakan, sehingga terdapat kemungkinan masuknya kotoran yang bukan dari minyak atsiri ke dalam minyak hasil penyulingan. Bukti yang paling jelas adalah pada minyak atsiri yang dihasilkan terdapat sisa-sisa proses karbonisasi (berupa bau minyak terbakar).
    • Tempat penyimpanan / tempat penampungan minyak tidak sesuai dengan standar (sebaiknya bahan kaca gelap / tidak tembus cahaya).

d. Solusi Dan Saran Perbaikan

Berdasarkan hasil kajian data data diatas dapat disimpulkan :

  1. Perlu dilakukan analisis total terhadap parameter sistem agribisnis yang ada, yang terdiri dari :
    • Analisis daya dukung lingkungan (seperti kesesuaian unsur hara, pH, iklim, topografi, dll)
    • Analisis tanaman (kepastian varietasnya)
    • Analisis sistem penyulingan ( kadar logam terlarut, tempat penampungan minyak, termodinamika penyulingan, sistem perpindahan panas, dll)
  2. Dari ketiga faktor diatas, salah satu cara yang paling cepat untuk dilakukan adalah penggunaan bibit nilam dengan varietas yang jelas dan kualitas yang baik serta diadaptasikan terlebih dahulu. Diharapkan dengan kualitas bibit yang baik akan mampu memberikan minyak nilam dengan kualitas yang baik.
  3. Untuk mendapatkan mutu minyak hasil destilasi perlu dilakukan penyetelan ulang mesin dan bila memungkinkan dilakukan modifikasi sistem penyulingan sehingga diperoleh cara pemanasan daun (sistem penguapan), yang seragam dengan derajat pemanasan yang terkendali. Sistem pemanasan juga dapat dilakukan dengan cara penguapan pada daun basah dan pada daun kering. Namun untuk itu diperlukan studi lebih lanjut.

4.2. Gambaran Observasi Lapangan di Sentra Nilam Dusun Calincing Kecamatan Argapura Kabupaten Majalengka

a. Aspek Budidaya

Areal budidaya tanaman nilam untuk kabupaten Majalengka saat ini terpusat di dusun Calingcing kecamatan Argapura. Luas areal budidaya yang ada saat ini sekitar 70 hektar tersebar di beberapa dusun dengan pola penanaman tumpang sari dengan tanaman tahunan di kaki gunung yang ada di sekitarnya. Dari hasil observasi lapangan dapat diketahui bahwa varietas tanaman yang dibudidayakan oleh petani sudah seragam (varietas Sidikalang) dimana proses awal budidaya dilakukan dengan menguji coba kesesuaian varietas tanaman tersebut bekerjasama dengan Balitro.

0g9

b. Pengamatan Visual dan Kinerja Unit Destilasi

Pada awalnya unit destilasi yang ada di lokasi pabrik menggunakan cara destilasi daun basah, akan tetapi pada uji coba awal ada kelemahan pada sistem pemanasan sehingga pada akhirnya unit destilasi dimodifikasi kembali untuk penanganan bahan baku daun kering. Elemen pemanas yang digunakan saat ini adalah batu bara atau minyak tanah (dengan menggunakan kompor pemanas khusus sebagaimana terlihat pada gambar).

0g10

Hasil uji coba pada unit destilasi yang ada menunjukkan tingkat persentase pachouli alkohol (PA) yang dihasilkan telah memenuhi syarat minimal standar produksi nilam dimana PA yang diperoleh sekitar 34% (standar yang syaratkan harus lebih besar dari 30%). Rendemen minyak hasil destilasi dengan unit destilasi yang ada saat ini baru mencapai 2,6% dari berat kering daun yang diproses. Kinerja yang ada saat ini masih dapat ditingkatkan antara lain dengan memperbaiki sistem pemanasan dan cara pemotongan daun dan ranting yang akan didestilasi.

4.3. Gambaran Observasi Lapangan di Sentra Nilam Kabupaten Garut

a. Aspek Budidaya

Sentra nilam di Kabupaten Garut pada saat ini baru dalam tahap awal pengembangan, yaitu di sekitar daerah Pakenjeng, Malangbong dan Cilawu. Fokus utama pada daerah tersebut adalah pengembangan bibit dan budidaya varietas unggul agar sesuai untuk kondisi setempat. Pembibitan yang dikelola oleh masyarakat saat ini dapat memenuhi kebutuhan bagi kelompok tani dengan rata-rata produksi bibit per periode tanaman sekitar 1 – 2 bulan antara 20.000 hingga 30.000 bibit.

0g11

b. Unit Destilasi

Untuk sentra nilam di kabupaten Garut saat ini belum menggunakan unit destilasi yang modern. Kebanyakan kelompok tani masih menggunakan peralatan yang sederhana dengan menggunakan drum dan sumber pemanas dari kayu bakar. Sehingga minyak yang dihasilkan masih di bawah standar yang ditentukan. Saat ini beberapa kelompok tani tengah mengupayakan membangun unit destilasi modern dengan bahan stainless dan sumber pemanas kompor / burner yang lebih baik.

4.4. Gambaran Observasi Lapangan di Sentra Nilam Kabupaten Bandung

Pengamatan dilakukan pada salah satu pengusaha agribisnis yang tertarik untuk mengembangkan tanaman nilam, yaitu di desa Arjasari kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung. Perusahaan yang dikelola oleh swasta ini baru sebatas uji coba unit destilasi sedangkan kebun untuk budidaya tanaman nilam belum memadai dan masih dalam tahap penyiapan. Untuk saat ini pemenuhan bahan baku penyulingan daun nilam diperoleh dari berbagai daerah, antara lain : Garut dan Tasikmalaya. Unit destilasi yang digunakan adalah sebagaimana disajikan pada gambar berikut.

0g12-13

V. REKOMENDASI UMUM

Berdasarkan hasil pengamatan keseluruhan di beberapa lokasi observasi dapat direkomendasikan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Perlu dilakukan analisis kesesuaian lahan mulai dari jenis tanah, kesuburan tanah, topografi, ketinggian tempat dan zona klimatisasinya agar diperoleh pertumbuhan tanaman nilam yang paling baik.
  2. Perlunya perbaikan budidaya tanaman nilam yang lebih baik untuk mendapatkan mutu minyak yang seragam. Perbaikan teknis budidaya dapat dilakukan melalui pemilihan atau seleksi bibit yang baik dan seragam kemudian diadaptasikan secara intensif untuk memberikan hasil rendemen minyak nilam yang semaksimal mungkin.
  3. Perlu diperhatikan model rancangan unit destilasi terutama pada bagian pemindah panas dan bahan tangki destilasinya agar tidak mengurangi mutu minyak yang dihasilkan.
  4. Dari hasil pengamatan di lapangan diketahui adanya masalah pada limbah daun nilam sisa destilasi. Jumlah timbunan limbah yang makin menumpuk menyebabkan dampak negatif pada tanah, tanaman, air dan lingkungan di sekitarnya.
  5. Perlu adanya pelatihan dan penyuluhan intensif mulai dari cara budidaya, aspek teknologi destilasi dan manajemen mutu minyak menjelang di pasarkan.

DAFTAR PUSTAKA

James E. Austin. 1981. Agroindustrial Project Analysis. John Hopkins University Press. Baltimore. Maryland USA.

O’neil, P., 1993. Environmental Chemistry, 2nd Edition. Chapman Hall, London.

Departemen Pertanian. 2000. Jurnal Litbang Pertanian 19( 1 ), 2000

PT. Cakrawala Pengembangan Agro Sejahtera. 2001. Minyak Atsiri, Jawaban Atas Salah Satu Masalah Klasik Pertanian Indonesia. Publikasi 19 November 2001.

www.bi.go.id

www.javaklik.com


Sumber : http://minyakatsiriindonesia.wordpress.com/atsiri-nilam/roni-kastaman-dan-ade-m-kramadibrata/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar